Tuesday, December 3, 2013

Aher Capres PKS Paling Potensial

8:42 AM By PKS Pamulang No comments

Jakarta - Nama-nama bakal calon Presiden dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), semakin mengerucut. Tiga nama yang menonjol dalam Pemira, Anis Matta, Hidayat Nur Wahid dan Ahmad Heryawan.
Dari tiga nama tersebut jika dilakukan semacam "due dilegence" dengan mudah terlihat-persaingan antar ketiga calon dari segi kinerja, cukup ketat. Keunggulan antarsesama calon hanya berselisih tipis.
Anis Matta sebagai Presiden PKS, jelas memiliki keunggulan tersendiri. Anis Matta dikenal sebagai seorang pemberani dalam mengambil risiko. Ia rela melepas kedudukannya selaku Wakil Ketua DPR-RI begitu para petinggi PKS menetapkannya sebagai pengganti Luthfi Hasan Ishaaq. (Luthfi terlibat dalam kasus impor daging sapi). Anis tidak berusaha merangkap jabatan, menunjukkan putera asal Sulawesi Selatan ini tidak haus jabatan ataupun kekuasaan.
Sementara Hidayat Nur Wahid, sebelumnya dikenal sebagai Ketua MPR-RI periode 2004-2009. Sekalipun posisi MPR-RI dalam konstitusi kita tidak lagi begitu besar pengaruhnya dibanding ketika masih berstatus sebagai Lembaga Tertinggi Negara, tetapi keberhasilan Hidayat memenangi persaingan jabatan Ketua MPR-RI, di 2004, tetap saja merupakan sebuah prestasi tersendiri. Sebab pada saat itu, Hidayat mengalahkan calon-calon dari partai utama.
Akan tetapi secara kasat mata, Ahmad Heryawan (Aher) yang saat ini menjabat Gubernur Jawa Barat, terbilang memiliki rekor yang lebih baik. Aher lebih mengungguli Anis Matta dan Hidayat Nur Wahid. Atau bisa disebut, Aher merupakan kandidat yang paling menonjol atau potensil. Mengapa?
Tanpa meremehkan potensi dan rekam jejak serta kharisma Anis Matta dan Hidayat Nur Wahid, keunggulan yang dimiliki Aher terletak pada kinerjanya sebagai Gubernur Jawa Barat. Jabar (Jawa Barat) merupakan salah satu provinsi yang paling padat penduduknya di Indonesia, setelah Jawa Timur.
Penduduk Jabar sekitar 35 juta jiwa. Sehingga menjadi Gubernur untuk daerah yang padat penduduknya, bukanlah hal yang mudah. Ditambah dengan faktor geopolitik dari provinsi tetangga DKI Jaya. Sebagai daerah khusus yang sekaligus ibukota NKRI, provinsi DKI memiliki banyak kekhususannya.
Sehingga seorang Gubernur Jabar harus bisa berpikir secara strategis dalam menyesuaikan diri dengan provinsi yang menjadi ibukota NKRI. Cara menyesuaikan ini memerlukan kemampuan tersendiri. Kemampuan itu berhasil diwujudkan Aher dalam berbagai bentuk sinerji. Hasilnya hubungan dengan tetangga provinsi berjalan baik. Keterpilihannya kembali di 2013, merupakan akumulasi dari berbagai keberhasilannya memimpin Jabar.
Keterpilihannya kembali sebagai Gubernur Jabar, merupakan sebuah kejutan. Sebab jumlah pasangan peserta, tidak hanya dua atau tiga pasang. Sehingga meraih suara dari persaingan ketat tersebut, relatif tidak mudah.
Menjelang dan selama Pilkada Jabar digelar, upaya (politik) untuk menjegalnya agar tidak bisa meraih kemenangan kedua kalinya, dilakukan oleh lawan-lawan politik secara terpadu dan sangat sistemik.
Sebuah media nasional yang cukup berpengaruh, tiba-tiba menurunkan laporan utama. Isinya tentang penggelapan sejumlah dana di Bank Jabar (BJB), bank milik pemerintah Jawa Barat dan provinsi Banten.
Secara implisit media itu menuding Aher sebagai pihak yang perlu dimintai pertanggung jawaban. Dan hal itu secara tidak langsung memprovokasi masyarakat Jabar agar menghentikan kepercayaan mereka kepada Aher.
Selain itu, Aher juga digoyang dengan dikesankan sebagai pemimpin yang tidak demokratis. sehingga keputusan Dede Yusuf untuk bersaing dengan Aher dalam Pilkada Jabar, seakan sebuah bukti atas semua tudingan itu.
Bersamaan dengan pelaksanaan Pilkada, pengurus pusat PKS dihebohkan oleh tuduhan yang tak terbukti keterlibatan pemimpin PKS dalam impor daging sapi. Aher tidak terlibat sama sekali dalam bisnis impor daging sapi tersebut. Tapi karena yang ditangkap KPK merupakan petinggi PKS, Aher sebagai salah seorang kader senior PKS seakan ikut terlibat.
Isu daging sapi tergolong yang paling sensitif. Karena substansi isu tersebut tidak hanya menyentuh soal tingkah laku pemimpin PKS tetapi lebih jauh dari itu. Sementara Aher masih tetap menggunakan PKS sebagai kendaraan politik untuk meraih jabatan Gubernur Jabar kedua kalinya. Sehingga pemulihan kepercayaan itu, harus diperjuangkannnya.
Kejutan terjadi, karena sekalipun Pilkada dilaksanakan bersamaan dengan penangkapan KPK terhadap sejumlah tokoh nasional dari PKS, Aher sebagai calon dari PKS tetap berhasil memenangi Pilkada Jabar.
Itu sebabnya tidak berlebihan kalau disebut, Aher merupakan capres yang paling berpotensi untuk Pemilu 2014. Aher sudah mengarungi samudera yang penuh badai dan lolos dengan selamat.

0 comments:

Post a Comment